Beda, memahami dan merasakan

Hai, Assalamualaikum, sudah lama banget ngga update blog ini, serasa usang sekali. Aku tenggelam di dalam kesibukan kehidupan dunia yang tak akan pernah ada habisnya. Kali ini saya ingin bercerita mengenai suatu kejadian yang mungkin kita semua bisa ambil hikmahnya.

Suatu ketika aku mempertaruhkan budget bulan Januari untuk menggapai impian, ada kesempatan di negeri sebelah yang kecil tapi entah kenapa aku suka sekali dengan suasana disana.  Dimulai dari ketika setelah kerja, langsung ke bandara untuk mengejar flight yang lumayan mepet di hari itu, berbekal 35 SGD dan 2 buah roti kasur sari roti, aku berangkat kesana sendiri. Karena sampai sana tengah malam, mau tidak mau aku harus bisa tidur di suatu tempat, dan aku memutuskan untuk tidur di bandara, sekalian untuk menunggu transportasi ke kota, tapi sebelum pintu keluar imigrasi. Setelah 3 jam berlalu, sempat tidur beberapa menit (atau jam) aku ditanyai dong sama petugas bandara dan mereka nyuruh aku buat keluar karena ga punya kebutuhan untuk di dalam bandara, at least kudu keluar imigrasi dulu, good bye tempat tidur enak, wkwk.

Btw, bukan itu inti postingan ini. Ingat sari roti yang aku bawa tadi? Yak, sudah habis 1 untuk sarapan pagi itu, dan perjalanan dimulai, seharian memperjuangkan impianku tadi, pada sore harinya tinggal 1 potong, karena cukup menguras tenaga dan mental disana. Ketika semua usai, uang di dompet tinggal 25 SGD, karena kepakai untuk topup ez-link. Beranjaklah aku ke penginapan dan berkurang lagi 10 SGD untuk deposit, jadi sore itu uang ku tinggal 15 SGD dan 1 potong sari roti di ransel. Berada di jarak ratusan kilometer dan berbeda negara tentu itu sangat menguji mental, apalagi perut terasa lapar sekali. Satu potong roti tadi adalah salah satu penyelamat kelaparanku saat itu.

Seketika aku ingat ketika aku habis makan di roti bakar kemang dengan teman teman ku, ketika mau balik, ada anak muda penjual sandal gitu meminta makanan ke aku, karena saat itu aku gabawa uang cash, dan tinggal sisa roti pemberian seminar pada siang harinya, aku kasih ke pemuda itu, dan dalam hati, mungkin itu bisa mengganjal rasa lapar dia. Dan saat itu aku mengalaminya. Sungguh pedih memang berada di kondisi susah, akan tetapi dengan mengalami hal seperti itu, aku jadi lebih peka dan menghargai mengenai sesuatu tersebut. Kita mungkin bisa bilang kelaparan itu tidak enak, akan tetapi feeling ketika kita mengatakan hal itu akan berbeda dari satu yang pernah mengalami dan satunya yang hanya sekedar tahu saja.

Itu mengingatkan saya lagi mengenai kerasnya pencarian kerja pada saat itu, dimana aku hanya berbekal teori saja, saya tahu tapi belum pernah mengalaminya, dan sangat berbeda ketika aku pernah melakukannya.

Disitu adalah saat dimana suatu daya juang dan kepekaan terlatih, yang mana tidak akan aku dapatkan ketika aku hanya berdiam diri di ruangan dengan kursi dan meja sepanjang hari. Hard skill itu sangat penting, akan tetapi jangan lupa bahwa hard skill tersebut tidak akan terdeliver dengan tepat sasaran dan baik ketika soft skill kita tidak kita latih.

Just say it, I hope you get better life every seconds, every day.
Bye!