Founder’s Mindset

Assalamualaikum pembaca, Semoga kalian selalu diberikan semangat dalam hidup untuk meraih kebahagiaan dunia dan pastinya akhirat.

Sudah 2 minguan setelah mengikuti Ignition pada acara 1000 Startup Digital di kota Surabaya, rasanya perlu untuk dituliskan untuk menjadi manfaat bagi sesama. Inti pada Ignition ini adalah pelurusan pola pikir sebelum kita terjun sebagai founder startup.

Dan berikut adalah point yang saya dapatkan :

  1. Build Team
  2. Teknologi
  3. Keeping Team
  4. Be Realisator
  5. Tahu kondisi
  6. Be Good Listener
  7. Pandang positive kegagalan

Menciptakan team diperlukan dalam mewujudkan sebuah startup. Kita harus berfikir bahwasanya dengan sebuah team, maka kita semakin kuat. Kamu mungkin bisa menjadi seorang superman, tapi dalam mewujudkan startup akan lebih baik kamu membuat Avengers. Semisal disini kamu sebagai programmer, kamu bisa mewujudkan ide menjadi sebuah produk, mungkin secara fungsional jalan, akan tetapi belum tentu cantik dan menarik pengguna untuk menggunakannya, oleh karena itu kamu butuh designer, setelah punya produk yang fungsional dan cantik, kamu masih perlu yang namanya marketing, yang mana dia lebih tahu potensi pasar dan target pengguna dan bagaimana memasarkannya, sehingga startup kamu lebih powerfull menangani problem.

Membuat apps dengan teknologi yang sangat canggih tentu saja menarik, akan tetapi, jangan lupa untuk melihat pengguna dan kebutuhan, lebih penting untuk bisa mendeliver ide kamu sehingga sampai dengan tepat pada pengguna daripada membuat apps dengan teknologi muthakir akan tetapi ketika ditangan pengguna tidak digunakan, bahkan menjadi sia sia karena dianggap ribet dan kadang tidak digunakan.

Tentu untuk survive dalam perintisan sebuah startup bukanlah hal yang gampang, ada kalanya tidak bisa menggaji para karyawan karena kehabisan dana ataupun masih menunggu investor. Dengan adanya kesamaan visi antar team akan lebih menyatukan sebuah team, maka sangat penting adanya penyamaan visi. Selain itu budaya kerja dalam startup serta suasana yang diciptakan ketika bekerja dalam startup akan menjadikan team lebih menyatu.

Ide itu tak ada yang berharga sampai pada saat ide itu direalisasikan. Semua bisa saja punya ide akan tetapi tanpa adanya realisasi, semua itu tak ada apa apanya. Mungkin semua bisa berfikir untuk membuat Go-Jek, tapi yang bergerak adalah Nadiem Makarim.

Sekali lagi, membangun sebuah startup bukanlah suatu hal yang mudah. Kamu harus bisa menerima konsekuensi dalam merintis startup, mulai dari labilnya financial, kegagalan, ditinggal co-founder, atau memutuskan untuk menutup startup yang kamu rintis ketika tidak ada masa depan untuk startupmu dan memulai dengan ide yang baru.

Point ini berungkali diucapkan oleh para founder startup yang menjadi panelist. Ya, karena ini adalah aspek yang penting dimana kita perlu menjadi pendengar yang baik, bisa saja masalah masalah itu bisa kita selesaikan dengan solusi solusi yang kita bawa. Dan perkembangannya, tetap menjadi pendengar yang baik karena apa yang kita yakini belum tentu orang lain yakini juga.

Mungkin kita akan seringkali bertemu dengan kegagalan, akan tetapi tetap semangat, bisa jadi kegagalan tersebut membawa kita ke ide yang lebih potensial dan lebih bermanfaat dari ide sebelumnya. Dan seorang founder never want to quit, karena startup adalah sebuah solusi dari sebuah permasalahan.

that’s all, berharap tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *