Maksimal bukan berarti optimal

Hai!
Assalamualaikum, apa kabar nih? Semoga selalu diberi keberkahan waktu di dunia yak.

Pernah ga sih kalian ngerasa bekerja dengan mengerahkan segala kemampuan sampai sampai waktu yang kalian punya terkuras untuk hal itu aja? Aku pernah,

Saat itu aku kerahkan semua kemampuan, kerja sampai malem, pagi berangkat lagi, sabtu minggu tidur aja, berulang gitu gitu aja, sholat disela waktu kerja, jadi bisa aja 4 jam kerja non stop, asumsi dari jam 13 sampai jam 17, atau jam 19 sampai jam 24.

Sabagai anak muda, hal kaya gitu ga masalah buat fisik, terutama disupport sama multivitamin, kadang seminggu bisa minum multivitamin 3-4 kali, padahal ngga baik banyak banyak kaya gitu. Seminggu, dua minggu, sampai 3 bulan, semua bukan menjadi masalah sampai ketika kejenuhan datang. Kehilangan arah lebih tepatnya, sudah merasa doing everything, progress perkembangan diri di skill terkait juga semakin bertambah, tapi entah kenapa seperti ada yang kurang, tidak tahu itu apa.

Kembali aku retrospective, tapi tidak ada waktu untuk itu, sampai sampai aku terfikir untuk resign dan mencari tempat kerja yang jam kerjanya ngga ngehabisin waktu yang dipunya. Cari dan dapat, dan aku bersyukur waktu itu aku dapet tawaran final kerjaan di tempat lain walau akhirnya aku tolak, dari sana aku dapat kesempatan untuk discuss sama CTO ku, dan dari sana, aku disadarkan bahwa sebenarnya aku yang menjadi masalah adalah manajemen diriku. Aku terlalu forsir diri pada kerjaan, padahal kerjaan itu pasti ga akan ada habisnya, ga akan. Kadang jomblo perlu belajar mengenai peka, biar kalau ternyata lelah batin, pikiran, diri dia sendiri bisa peka sama keadaanya sendiri.

Dari sana aku sempatkan weekend untuk get a life, hang out sama temen, pergi ke wisudaan temen. Dan yak, I feel better. Lalu berfikir lebih mengenai hidup, sebegitu hilangkah keberkahan waktu ku hingga kerjaan bisa lebih prioritas dari ibadah? Dari sana, beruntunglah karena disamping kantor ada musholla yang memudahkan untuk sholat diawal waktu buat bekal kehidupan setelah kehidupan di dunia.

Dan dari sana saya merasa lebih bahagia, dan fokus waktu kerja, mungkin kalian pernah baca kalau belajar/kerja dalam waktu 1-2 jam dan istirahat 15 menit lebih optimal dari pada belajar/kerja 4 jam penuh lalu istirahat selama 1 jam? Kita perlu sadar bahwa otak kita mempunyai pola dalam bekerja, dan tiap manusia itu unique. Dari penelitian ini,  disana dikatakan kalau waktu terbaik untuk produktifitas adalah 52 menit, dan 17 menit istirahat.

Okay jadi mari kita hitung, masuk kerja jam 9, jam 11 ambil minum di cafetaria, jam 12 istirahat makan sama sholat, jam 14 ambil minum lagi, jam 15 sholat ashar, jam 17 ambil minum, jam 18 sholat maghrib sama dinner, jam 19.20 sholat isya, jam 21 beres beres pulang. di setiap rentang waktu itu ada spare waktu 1-2 jam buat fokus kerja. Dan ternyata memang cara kerja seperti ini sampai saat ini optimal untuk aku.

Dan sekarang, apakah memaksimalkan jam kerja akan menjadi optimal? In my opinion is big NO. Kerja efisien dan optimal lebih baik dari pada kerja dengan maksimal. Jangan lupa bahagia, sadarlah kalau kerja itu part of life, not your whole life, dont forget another part like your hobby, social life, family time etc.

Semoga harimu menyenangkan dan mendapatkan keberkahan waktu, karena sebenarnya waktu itu pedang bermata dua.