Jakarta hari ini

Hallo pembaca, Assalamualaikum, selamat pagi dan semoga harimu selalu menyenangkan. Jangan lupa bersyukur untuk setiap kebahagian yang didapat.

Tak terasa sudah hampir 2 minggu aku mulai menjalani hari hariku di jakarta. Walaupun statusnya bekerja, aku memposisikan diriku sebagai pembelajar dan kontributor untuk perusahaan yang sekarang. Dulu itu aku selalu negative think mengenai kehidupan di Jakarta, mulai dari keadaan jalannya, systemnya, lingkungannya. Apalagi ketika mendapat cerita cerita yang katanya berat banget buat hidup di Jakarta. Yang katanya balik malem, berangkat pagi banget, bahkan aku sampai terpikir, gilak, itu kerja sampai gitu banget ya. Yang katanya hidup di Jakarta itu berat, banyak tekanan, bahkan pernah juga ketika pas jadi jobseeker, ketika mau apply di perusahaan di Jakarta, he said, lingkungan kerja banyak tekanan, ditekan untuk mengejar apa target sebelum momentum yang ada hilang. Thanks mas!

Dan apa kenyataannya sekarang?

Yap, semua itu benar, mulai dari jalanan yang macet, tekanan untuk bisa belajar mengejar ketertinggalan, mengejar target sebelum momentum hilang, selalu berusaha untuk berlari, berangkat jam 7 pagi dari rumah, dan sampai rumah jam 10 malem setiap hari kerja. Tapi semua itu menyenangkan kok untuk diriku sebagai pria lajang yang sedang mengejar 10.000 jam untuk menjadi profesional. Dan yang perlu digaris bawahi, yang sekarang ini adalah aku bekerja di sebuah startup, dimana system kerjanya “mungkin” aku kira cukup beda dengan di perusahaan korporat. Dimana rekan kerja mayoritas adalah anak muda yang antusiasm dengan target yang akan dicapai. Berangkat pagi pulang malam bukanlah masalah, dan ajaibnya ngga terasa lelah. Bahkan di beberapa case yang kiranya jadi penghambat dan pembuat bete tersebut sebenarnya tersimpan potensi potensi yang membuat bahagia, misal dalam perjalanan berangkat dan pulang, sebagai mantan mahasiswa yang dulunya suka dengan analisa data, kita bisa mengamati dan melakukan experimen di jalan, mengamati perbedaan hari dan kepadatan traffic pada rentang waktu tertentu. Karena traffic di Jakarta itu unik banget, ketika jam 7 pada hari senin berbeda dengan jam 7 pada hari selasa, dan jam 7 pada hari selasa berbeda dengan jam 7.15 pada hari yang sama. Dan menariknya lagi, titik macet itu selalu sama, seperti di penyeberangan kereta api kalau di jalan arah depok, dan hal hal yang seperti itu apabila dianalisa dan mencari kesimpulan sebenarnya bisa menjadi solusi untuk kemacetan di jakarta. Itu adalah beberapa contoh saja, banyak hal menarik lainnya yang ada di Jakarta.

Opini ini mungkin hanya berlaku bagi pria atau wanita yang jomblo, dan masih muda, karena aku sendiri kalau memproyeksikan diri, sepertinya tidak akan rela ketika sudah berkeluarga, cuman bertemu seminggu duakali, hari sabtu dan minggu. Sebagai pelejit, tiada apa bekerja di lingkungan seperti ini sangat benar benar menantang dan pas.

Dan satu lagi,  hidup di Jakarta itu bikin banyak banyak bersyukur, bersyukur ketika mendapat jalanan sepi ketika biasanya macet, bersyukur akan weekend ketika setiap harinya kerja, bersyukur akan produktivitas daripada hari hari sebelum bekerja yang mau ngapain saja bingung. Jakarta ga sengeri itu, untuk kondisi dan lingkungan yang aku sebutkan sebelumnya, atau mungkin aku yang beruntung mendapat environtment bekerja yang nyaman dan baik.

Bagaimanapun keadaan yang sekarang, tetaplah bersyukur, apabila keinginanmu belum terwujud, selalulah berusaha untuk mendapatkannya, karena Allah tahu apa yang terbaik untuk mu, dan makhlukNya memiliki keterbatasan untuk mengetahui hal tersebut.

Keep Cheers!