Belajar dari yang sudah ada

Assalamualaikum pembaca, semoga hari anda selalu dirindungi dalam keberkahan, karena setiap detik yang dilalui adalah kenikmatan yang harus kita manfaatkan untuk kenikmatan akhirat yang telah dijanjikan Allah.

Pernah ga sih kamu riset? Walau bukan riset formal, tapi setidaknya mengamati apa yang sudah ada. Terutama di UI/UX sebuah software, kita bisa belajar dari mana pun, baik secara formal maupun tidak. Terkadang kita merasa dilema akan hal hal yang termasuk dalam UI/UX karena kalau saya, masih sangat ingat kalau apa yang kita rasakan bukanlah apa yang orang lain rasa juga, dengan kata lain, keren di mata kita bukan berarti keren di mata mereka. Ilmu ini saya dapat pada mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer, dimana saya merasa itu adalah mata kuliah psikologi, walau saya tidak terlalu paham dengan apa arti psikologi itu sendiri, wkwk.

Dilema itu bisa dalam case, misalnya, kamu pengen mbuat ecommerce nih, terus kamu dilema, disetiap produk itu perlu ga sih adanya tombol beli di list produk? Atau hanya perlu user klik gambar atau nama produknya saja? Lalu saya penasaran nih, ecommerce sekarang kan sudah banyak banget dan pasti sudah punya team yang mumpuni, dimana dibanding dengan seorang mahasiswa yang nyoba mbuat startup, dan cuma punya 5 anggota team, dan itu saja berbeda ilmu dan bidang. Lalu coba buka aja, Amazon, ebay, tokopedia, bukalapak, lazada. Dan ternyata yang pakai tombol beli itu hanya bukalapak dan lazada, walau tidak punya data akurat mengenai ini, dan sebenarnya hal ini bisa dilakukan tes tersendiri dengan suatu metode, tapi ada kendala di jangkauan luasan target, terutama startup kere yang bermodal usaha dan keahlian setiap individu yang bisa dimanfaatkan.

Oke dari studi banding ecommerce lain, dapat diasumsikan, walau seharusnya yang baik adalah dengan mencari fakta, bahwa “mungkin” pengguna mereka lebih suka ngeklik langsung dari gambar ataupun judul, daripada ngeklik tombol untuk menuju detail produk yang saya juga rasa, itu adalah sebuah redundansi.

Oiya, jangan lupa, jangan pernah pakai asumsi apabila fakta memungkinkan untuk didapat, tapi karena minimnya dana dan keterbatasan resource, maka cara ini bisa diimplementasikan. Saya sendiri kurang tahu hal ini sebenarnya sudah ada nama metodenya atau belum.

Itu sendiri bisa dikatakan contoh kecilnya, apabila saya amati, contoh yang besar dapat dilihat dari instagram maupun whatsapp punya mark yang mana meniru fitur snapchat.

Ya mungkin semacam itu, hal lainnya mungkin bisa dikembangkan dari tulisan ini, anda bisa menemukan fakta yang lain, dan mempermudah kehidupan anda, apabila anda bingung dengan tulisan ini, mungkin suatu saat saya juga, tapi kalimat ini masih relevan dengan tulisan diatas.

Selamat melanjutkan hidup, yang penting bukan orientasi dunia saja yak.

Assalamualaikum.