Deadliner dan Penyicil

Assalamualaikum pembaca,

Seperti biasa, bagaimana kabar? Semoga masih dalam kebaikan semua. Karena semua kenikmatan yang masih kita rasakan adalah hal yang tak ternilai, dimana bisa kita gunakan untuk kebaikan kebaikan lainnya.

Seperti yang saya alami, sebagai mahasiswa tingkat akhir, semester 8, saya sedang menghadapi yang namanya Tugas Akhir, atau biasa disebut dengan TA.Nah, disini saya terpelatuk, eh, ter triger akan sebuah perbandingan masa produktif.

Sebagai manusia, kita pasti pengen yang optimal, pengen yang terbaik. Akan tetapi yang lebih mainstream adalah manusia tidak jarang untuk lupa untuk melakukan aksi. Pasti, salah satu atau mayoritas, bahkan semuanya, pernah menjadi seorang yang deadliner, dimana mengerjakan sesuatu dalam waktu yang mepet dengan deadline, bahkan tidak jarang sesuatu yang dikerjakan tadi selesai dalam waktu setelah deadline, dan tetep nekat dilakukan pada waktu selanjutnya. Lalu tak jarang juga kita dengar perkataan orang bijak, dimana cicilah sesuatu pekerjaan itu. Sebagai orang yang deadliner, dan disertai dengan procrastination, tidak jarang saya hanya mengiyakan, tapi masih tidak rela untuk bisa mencicil pekerjaan dengan dalih, saya bisa mengerjakan hal itu dalam 8 jam, kenapa saya harus memulai hal tersebut dalam 3 minggu sebelum deadline? Dan sesuatu yang paling menjadi alasan untuk mengerjakan mendekati deadline adalah masih jauh hari dari deadline, dimana entah kenapa tidak ada rasa semangat untuk mengerjakan sebuah pekerjaan itu.

Lalu ketika deadline itu mendekat, maka akan ada perasaan terdesak, dan mulai merasa perlu untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, tapi tapi, sebenarnya estimasi deadliner kita tadi adalah estimasi untuk clear time, dimana tiada ganguan sedikitpun ketika mengerjakan pekerjaan tadi, bayangkan ketika ada halangan semacam mati lampu bila pengerjaan perlu adanya listrik dan sebagainya, seorang deadliner bisa dipastikan melewati batas waktu yang ditentukan.

Lalu kembali ke teori ke 2, yakni dengan mencicil sebuah pekerjaan, sebenarnya tidak ada yang salah denganĀ  hal ini, benar, sangat benar malah. Dari teori pertama tadi yang dirasa tidak ada adalah semangat saja, dan pada dasarnya mengerjakan sesuatu sebenarnya bukanlah pada semangat, tapi tujuan. Mencobalah untuk membuat hal benar, membuat sesuatu itu berjalan dengan benar, maka akan muncul perasaan nyaman, dan semangat itu muncul tanpa perlu kita tunggu, seperti muncul ketika mendekati deadline. Selain itu, metode mencicil ini sebenarnya dirasa kurang tepat bagi mainset deadliner, karena seperti yang dituliskan sebelumnya, hal yang bisa dikerjakan dalam 8 jam kenapa perlu dikerjakan pada 3 minggu sebelum deadline. Saya yang sebelumnya adalah deadliner ini, tidak bisa merasakan progress yang signifikan ketika melakukan cicilan dalam pengerjaan, karena paling hanya 3-8% dalam sekali pengerjaan dikarenakan banyak sekali pilihan, terutama saya adalah orang yang perfeksionis. Dalam pengerjaan, sering sekali dilanda keraguan, apakah hal ini adalah yang terbaik, dan benar? Perlu kah saya menanyakan hal ini kepada orang yang lebih tau? Dan selalu tidak puas dengan apa yang saya cari di internet. Dan apabila ditilik dari hasil akhirnya tadi, sebenarnya adalah sama dengan keputusan sementara yang tadinya ragu ragu tadi. Walau memang banyak value yang diambil ketika proses validasi dari keraguan menjadi keyakinan tadi sih.

Jadi intinya, menjadi deadliner, maupun seorang yang sukan mencicil pekerjaan sah sah saja bagi saya, tergantung keadaan dan kondisi, tapi pada dasarnya setiap orang bisa punya potensi menjadi deadliner karena memang insting natural. Dan tidak semua orang langsung bisa dengan ikhlas menjadi tipikal orang yang mencicil pekerjaan, karena sifat malas dan penunda yang saya rasa pada setiap orang pasti ada. Perlu adanya pola pikir yang benar untuk bisa transformasi kearah sana, dikarenakan deadliner bukanlah metode yang tepat untuk mengerjakan project atau pekerjaan yang mempunyai skala kecil kearah besar, karena pekerjaan bagus apa yang bisa dikerjakan dalam sehari? Setidaknya dalam pekerjaan itu perlu ada 3 step (ini opini pribadi hlo ya, wkwk) yakni persiapan, pengerjaan dan koreksi.

Jika masih menjadi deadliner, berhati hatilah, tipikal orang itu banyak, apalagi kamu tipikal yang ketika dealine, pekerjaan belum selesai dan semangat langsung turun, seketika ga ada tujuan. Bahkan kamu perlu mencicil bagaimana anakmu nanti kuliah, bagaimana uang pendidikannya, bagaimana keeratan dalam keluarga besar tetap terjalin, terutama dari pihak kamu, dari waktu kamu masih kuliah seperti saya ini, setidaknya nyicil mikir dulu, benangnya mengarah kemana dan kemana, sehingga pada waktunya, entah sadar atau tidak bisa mengarah ke arah yang diinginkan, dan selalu ingat, apabila tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan, Allah pasti punya rencana yang lebih indah dari rencana yang dirancang oleh makhuk ciptaan Allah.

Gitu sih, entah kenapa tulisan ini tertulis begitu saja ketika saya sedang stuck dengan Tugas Akhir saya ini, hha.

Assalamualaikum